The Brownies Way



Dalam melakukan sesuatu kita seringkali dihadapkan pada suatu kondisi pembelajaran yaitu suatu kondisi dimana kita berada dalam situasi untuk mencari bentuk yang sesuai dengan keadaan kita.

Seringkali dalam dunia kerja kita mendapatkan referensi dari berbagai master bisnis yang memberikan resep-resep bisnis, management, kode etik, dan lain sebagainya. Dan biasanya kita cenderung mengambil suatu sample yang besar artinya mengambil referensi dari suatu perusahaan besar.
Katakan misalnya kita mengambil konsep bisnis perusahaan Jepang yang sangat disiplin dalam hal waktu tapi dibarengi dengan management yang tepat untuk mencapai kondisi tersebut artinya ada sesi pelatihan, simulasi, sehingga semua karyawan mampu mengikutinya.

Dalam perusahaan kecil apakah kita harus menganut salah satu metode?
Jawabnya boleh ya, boleh tidak.
Kalau Anda menjawab "Ya" berarti Anda cerdas karena menggunakan referensi yang tepat menurut Anda.
Kalau Anda menjawab "Tidak" berarti Anda lebih cerdas lagi karena bisa saja Anda dalam situasi bisnis yang baik dan tidak membutuhkan salah satu metode pun atau jangan-jangan Anda membuat suatu metode sendiri.

Hari ini di perusahaan tempat saya bekerja memberlakukan suatu standard yang oleh management diharapkan mampu menjembatani semua bagian agar bisa bekerja secara efektif dan efisien. Ironisnya management melupakan satu faktor penting dalam penerapan suatu standard mengingat perusahaan yang diklaim sebagai perusahaan kecil. Faktor tersebut adalah "bagaimana karyawan menerima secara psikologis". "Apakah benar metode ini memberikan kenyamanan di semua lini?"

Jika estimasi jawabannya negatif maka kita harus berpikir untuk menggunakan metode The Brownies Way (ini hasil meditasi saya). Saya teringat sejarah kue brownies. Kue brownies lahir akibat salah resep sehingga menjadi cake bantat (padat). Tapi apakah kue brownies lantas mati begitu saja? Luar biasanya adalah "Tidak", bahkan brownies hingga sekarang merupakan kue yang berada di jajaran istimewa. Jadi dalam usaha berskala kecil hingga menengah, menerapkan suatu standard bukan suatu kesalahan namun standard juga harus disesuaikan dengan kondisi internal perusahaan, sanggup diterima oleh semua pihak, memberikan efek yang diharapkan di semua pihak, dan mampu memberikan output yang benar. Hal ini jauh lebih memberikan efek jangka pendek dan panjang yang saling menguntungkan, dibandingkan berpikir terlalu idealis.

Jika perusahaan Anda terlalu lama mencari ide-ide standarisasi, lebih baik jangan mengorbankan zone nyaman yang sudah ada di perusahaan Anda, perbaiki sedikit demi sedikit tapi pasti dengan menggunakan konsep The Brownies Way, resep yang salah bisa saja menghasilkan kue yang mengundang selera. Demikian juga konsep yang sederhana, dan mungkin salah menurut Anda, bisa jadi justru memberikan kontribusi yang menyenangkan semua pihak. Karyawan happy, pekerjaan tuntas, hoki engalir..sebaliknya Karyawan jengkel, pekerjaan tidak pernah tuntas, hoki..mampet.

Bagaimana menurut Anda?

Postingan terkait: