Pemilu, Pesta Democrazy?

Menjelang pemilu legislatif, di berbagai sudut jalan bermunculan baliho-baliho dan artis-artis politik. Saya tidak tahu apa yang ada di benak saya selain ketidakpedulian saya terhadap mereka yang memajang senyuman lebar di baliho pinggir jalan. Saya lebih peduli menyaksikan pesta demokrasi yang mungkin menggulirkan dana bernilai miliaran. Coba saja berhitung investasi dana politik yang hanya digunakan untuk pasang baliho tersebut. Anda akan sangat tercengang melihat sampah bernilai miliaran ketika pesta usai, ketika janji mungkin tidak terealisasi, dan ketika senyuman lebar berubah menjadi senyum kecut.

Saya juga lebih peduli ketika melihat bendera-bendera parpol dan iklan mini caleg yang dengan angkuhnya terpaku di pohon-pohon peneduh di pinggir jalan. Entah dimana tanggung jawab mereka terhadap kelangsungan hidup tanaman perindang tersebut untuk menyaring udara kotor dan mensuplai udara bersih kepada kita.

Lebih heran lagi ketika saya tidak kenal wajah-wajah yang terpampang disana dan dengan berbagai pertanyaan berkecamuk di pikiran saya, siapa mereka, mengapa saya harus memilih salah satu dari mereka, akan mereka menjadi pilihan yang tepat, dsb. Rasanya sulit percaya ketika otak kita merasa terpaksa harus mengenal pribadi mereka (yang mungkin semu) dalam waktu yang sangat singkat.

Senyum manis menyiratkan keramahan dan kesantunan, akankah akan tetap menjadi sesuatu yang diidamkan bagi rakyat ketika kursi dewan telah mereka duduki. Akankah mereka melihat kebutuhan rakyat dari sisi yang obyektif, akankah mereka turut memberikan dorongan bagi pemerintah dan rakyat untuk bersatu memajukan pembangunan di berbagai bidang?

Kita hanya bisa menanti, menduga, dan berharap semoga masa mendatang akan menjadi lebih baik.

Postingan terkait: